Dunia hiburan Indonesia kembali diguncang kabar duka yang memilukan. Dewhinta Anggary, cucu dari seniman legendaris Mpok Nori, ditemukan tewas dibunuh oleh mantan suami sirinya sendiri, FD. Tragedi ini bukan hanya mengejutkan keluarga, tetapi juga mengungkap kisah kelam di balik perpisahan pasangan tersebut, di mana pelaku tak segan membuntuti dan mengintai korban bahkan setelah mereka berpisah.
Di mata keluarga, Dewhinta Anggary, atau yang akrab disapa Anggi, dikenal sebagai sosok yang baik, penurut, dan selalu murah senyum. Kakak kandungnya, Dian Puspitasari, mengenang Anggi sebagai pribadi yang selalu mengalah, bahkan saat menghadapi teguran sekalipun. Dengan respons berupa senyuman, Anggi menunjukkan sifatnya yang sabar dan enggan memperpanjang masalah, membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman. Selain itu, cucu Mpok Nori ini juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap anak-anak, terutama para keponakannya.
Namun, di balik kepribadiannya yang ceria, Anggi ternyata menyimpan beban berat dalam kehidupan rumah tangganya. Ia diketahui telah berpisah dari mantan suami sirinya, FD, pada awal Februari 2026. Keputusan ini mendorong Anggi untuk mandiri dan memilih tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan. Sayangnya, perpisahan ini tak serta merta mengakhiri bayang-bayang mantan suaminya. FD justru menyewa tempat tinggal di sekitar kontrakan korban, diduga kuat untuk memantau setiap gerak-gerik Anggi.
Kisah kelam pengintaian ini semakin terkuak dari penuturan Dian Puspitasari. Ia mengungkapkan bahwa adiknya ditalak oleh FD pada awal Februari 2026, yang kemudian menjadi alasan Anggi pindah ke kontrakan. Meski telah berpisah, perilaku FD yang menyewa tempat di dekat Anggi menunjukkan obsesi yang tak sehat. Dian menduga kuat adanya perubahan sikap pada Anggi, terutama setelah ia mulai aktif bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang memicu kecemburuan pelaku. “Sejak adik saya kerja, temannya jadi banyak, ada aktivitas di luar dan banyak interaksi. Mungkin dia (pelaku) cemburu,” ujar Dian, menggambarkan sifat FD yang sangat cemburuan dan kerap mengekang Anggi, bahkan melarangnya berkomunikasi dengan orang lain.
Interaksi terakhir keluarga dengan Anggi terjadi pada Kamis malam melalui pesan singkat, sekitar pukul 21.30 WIB. Setelah itu, komunikasi terputus, kemungkinan karena kesibukan masing-masing menjelang Lebaran. Ironisnya, Dian sempat berpapasan dengan Anggi saat hendak pergi ke pasar pada hari Kamis, namun baru menyadari belakangan bahwa saat itu pelaku ternyata sedang membuntuti adiknya dari belakang, sebuah firasat mengerikan yang baru terpahami setelah tragedi terjadi.
Tragedi yang menimpa Dewhinta Anggary akhirnya terungkap pada Sabtu (21/3/2026) dini hari. Ibu dan adik korban yang berniat membangunkannya mendapati pintu kontrakan terkunci rapat dan tak ada respons. Sang adik kemudian memanjat jendela yang kebetulan terbuka dan menemukan Anggi sudah meninggal dunia di dalam. Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy, mengonfirmasi kondisi pilu di lokasi. “Korban ditemukan meninggal dunia di lantai dengan kondisi di lantai dan kasur terdapat darah mengering,” jelasnya, menambah gambaran mengerikan atas apa yang menimpa cucu Mpok Nori tersebut.
Kini, jenazah Dewhinta Anggary telah dimakamkan dengan tenang di TPU Pondok Ranggon, setelah sebelumnya menjalani proses autopsi di RS Polri Kramat Jati. Pihak keluarga menyatakan akan sepenuhnya mengikuti prosedur kepolisian dan berharap agar pelaku mendapatkan hukuman seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya yang keji. Di tengah duka mendalam, Dian juga menyayangkan beredarnya foto kondisi jenazah adiknya di media sosial, yang dinilai sangat menyakiti perasaan keluarga besar yang sedang berduka.
(TribunTrends.com/TribunnewsBogor.com)













