Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah terus memanas, dengan Selat Hormuz menjadi pusat perhatian global. Dua kabar krusial mendominasi sorotan kumparanBISNIS sepanjang Minggu (22/3): ultimatum keras dari Presiden Donald Trump kepada Iran dan kemunculan misterius ‘kapal zombie‘ yang mengelabui sistem pelacakan. Kedua insiden ini mengindikasikan tingkat ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, berpotensi mengguncang stabilitas regional dan pasokan energi dunia.
Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Pembangkit Listrik Dihancurkan
Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum tegas kepada Iran: buka Selat Hormuz dalam 48 jam, atau AS akan menghancurkan infrastruktur energi vital negara tersebut, termasuk pembangkit listrik terbesarnya. Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang signifikan di Timur Tengah, menyusul pengerahan ribuan marinir AS tambahan ke wilayah tersebut. Kondisi di selat yang merupakan jalur minyak krusial ini praktis tertutup, diperparah oleh serangan Iran sebelumnya terhadap fasilitas nuklir di Dimona, Israel, yang semakin memperketat situasi dan memiliki implikasi besar terhadap pasokan energi global.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pembatasan pelayaran hanya berlaku bagi kapal-kapal dari negara yang terlibat konflik. Di sisi lain, militer Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur energi AS dan rezim di kawasan jika mereka diserang. Ultimatum Trump juga tak lepas dari serangan rudal Iran ke Israel selatan yang melukai lebih dari 100 orang, dengan 84 korban di Arad dan 33 di Dimona, wilayah strategis yang diyakini sebagai lokasi arsenal nuklir Israel. Insiden ini menandai peningkatan drastis dalam tingkat kerusakan dan korban jiwa, mengisyaratkan fase baru dalam konflik yang berpotensi memiliki dampak ekonomi regional dan global yang signifikan, khususnya pada pasar minyak dan gas.
Kapal ‘Zombie’ Berkedok Pengangkut LNG Diduga Melintasi Selat Hormuz
Di tengah ketegangan militer, sebuah fenomena aneh terjadi: sebuah ‘kapal zombie‘ yang diduga menggunakan identitas kapal pengangkut LNG (gas alam cair) yang telah dipensiunkan, terlihat melintasi Selat Hormuz. Kapal bernama Jamal ini, yang sebelumnya dilaporkan dibongkar di India pada Oktober tahun lalu, memancarkan sinyal palsu sebagai kapal LNG. Peristiwa ini menandai pertama kalinya taktik semacam ini terdeteksi di Selat Hormuz sejak konflik bersenjata dimulai, menggarisbawahi upaya untuk menembus blokade atau menghindari risiko di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dengan lalu lintas di selat tersebut kini nyaris terhenti dan berisiko tinggi.
Data pelacakan menunjukkan kapal tersebut mulai memancarkan identitas barunya pada 13 Maret, kemudian muncul lagi pada 20 Maret di Teluk Persia. Penggunaan ‘kapal zombie‘ sebelumnya dikenal dalam perdagangan minyak yang terkena sanksi, namun penerapannya pada kapal LNG sangat tidak biasa mengingat spesialisasi dan jumlah kapal LNG yang terbatas. Analis mengindikasikan bahwa praktik ini bisa menjadi bagian dari strategi lebih luas untuk perdagangan gelap, serupa dengan penjualan gas Rusia ke China yang tidak terdokumentasi, menunjukkan adanya pasar gelap yang berkembang di tengah ketegangan geopolitik dan sanksi ekonomi.
Situasi pelayaran di Selat Hormuz semakin kompleks dengan adanya gangguan elektronik kuat yang dapat memalsukan posisi kapal, ditambah dengan keputusan beberapa kapal sah untuk mematikan sinyal demi keamanan. Selain itu, hanya segelintir kapal yang berhasil melintas diduga setelah negosiasi dan persetujuan dari Teheran, seperti kapal yang terkait dengan Turki, India, dan Jepang. Keseluruhan kondisi ini menyoroti tingginya risiko dan ketidakpastian bagi rantai pasokan energi global, serta implikasi signifikan terhadap biaya asuransi, biaya logistik, dan transparansi perdagangan di kawasan strategis tersebut.
















