MANTAN Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengungkapkan kekaguman mendalamnya terhadap aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus. Andrie baru-baru ini menjadi korban serangan air keras yang menghebohkan publik. Menurut Anies, kehadiran sosok seperti Andrie sangat krusial dalam perjuangan menegakkan pilar-pilar demokrasi di Indonesia.
Keyakinan Anies tersebut disampaikan dalam sebuah surat yang ditulisnya khusus untuk Andrie. Surat inspiratif itu disusun Anies saat ia menjenguk pegiat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) tersebut di rumah sakit. Foto surat pribadi yang mengharukan ini kemudian dibagikan oleh kolega Anies kepada para wartawan, menunjukkan dukungan moril yang kuat.
Dalam tulisan tangan Anies, Andrie disapa sebagai seorang pejuang. Anies menegaskan bahwa semangat juang Andrie yang tak pernah padam dalam menyuarakan kebaikan bagi negeri kini telah menggema dan dirasakan di setiap sudut Tanah Air. “Bung Andrie, Bung memang sedang terbaring badannya di ruang HCU, tapi gelora semangat Bung bisa berada sampai ke penjuru negeri,” demikian kutipan Anies dalam surat tersebut, menggambarkan betapa dampaknya melampaui kondisi fisiknya.
Lebih lanjut, Anies menggarisbawahi Andrie sebagai pribadi yang memprioritaskan kecintaannya pada bangsa di atas keselamatan dirinya sendiri. “Selama Republik ini punya pejuang-pejuang seperti Andrie Yunus, pribadi yang lebih mencintai negeri ini di atas keselamatan dirinya sendiri, maka kita bisa optimis bahwa demokrasi kita akan terus berdiri tegak!” tegas Anies, menyuntikkan optimisme terhadap masa depan demokrasi Indonesia berkat keberanian para aktivis.
Anies juga tak lupa menyampaikan doa tulusnya agar Andrie lekas pulih dan dapat kembali melanjutkan perjuangannya. Lantaran tidak dapat bertemu langsung dengan Andrie yang masih dalam perawatan intensif, mantan Menteri Pendidikan itu menitipkan pesannya kepada pihak keluarga Andrie.
Serangan brutal yang menimpa Andrie Yunus dilaporkan terjadi pada malam hari, Kamis, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23:37 WIB, di Jalan Talang, Jakarta Pusat. Ia menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal, sebuah insiden yang mengejutkan dan mengundang kecaman luas.
Berdasarkan kronologi yang dirilis Kontras, Andrie kala itu sedang mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat. Tiba-tiba, dua pelaku menghampiri dari arah berlawanan di Jalan Talang, tepatnya di Jembatan Talang, menggunakan sepeda motor matic Honda Beat, diduga model keluaran tahun 2016-2021.
Para pelaku terdiri dari dua laki-laki, dengan satu bertindak sebagai pengemudi dan yang lainnya sebagai penumpang. Kontras berhasil mengumpulkan ciri-ciri mereka: pelaku pertama yang mengemudi mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana jeans, dan helm hitam. Sementara itu, pelaku kedua yang dibonceng memakai penutup wajah menyerupai ‘buff’ berwarna hitam yang menutupi separuh mukanya, serta mengenakan kaus biru tua dan celana panjang biru berbahan jeans yang dilipat menjadi pendek.
Dengan cepat dan tanpa peringatan, salah satu pelaku menyiramkan cairan kimia berbahaya tersebut ke arah Andrie, mengenai sebagian besar tubuhnya. Andrie pun sontak berteriak kesakitan, hingga motornya terjatuh di jalan.
Akibat serangan keji tersebut, Andrie mengalami luka serius berupa luka bakar di sekujur tubuh, terutama pada area tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta bagian mata. Uniknya, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Kontras, tidak ditemukan adanya barang milik korban yang hilang atau dirampas, baik saat maupun setelah peristiwa tragis itu berlangsung, mengindikasikan motif serangan bukan perampokan.
Andrie segera dilarikan ke rumah sakit terdekat di Jakarta untuk mendapatkan penanganan medis darurat, khususnya pada bagian mata yang vital akibat terkena cairan korosif. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Andrie menderita luka bakar hingga 24 persen, sebuah tingkat keparahan yang mengkhawatirkan.
Peristiwa nahas ini terjadi sesaat setelah Andrie menuntaskan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng, Jakarta Pusat. Siniar yang bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” itu baru saja rampung sekitar pukul 23.00 WIB, hanya beberapa menit sebelum serangan.
Menyikapi insiden ini, Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya dengan tegas menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan upaya nyata untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya para pembela hak asasi manusia. Dimas menekankan pentingnya peristiwa ini segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat sipil, sebagai tanda bahaya terhadap kebebasan berpendapat.
Dimas mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas kejadian ini. “Aparat kepolisian harus langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis, menuntut transparansi dan akuntabilitas.
Selain itu, ia juga meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya dengan menjerat mereka dengan pasal percobaan pembunuhan, merujuk pada Pasal 459 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). “Mengingat, upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga meninggal dunia,” tuturnya, menegaskan potensi mematikan dari tindakan keji ini.
Nabila Azzahra berkontribusi dalam penulisan artikel ini













