Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
News Stream Pro SOLO – Kabar terkini datang dari penjaga gawang andalan Persis Solo, Muhammad Riyandi, setelah insiden menegangkan di laga kandang kontra Bali United di Stadion Manahan pada Kamis (12/3/2026) malam. Dokter tim Persis Solo, Iwan Wahyu Utomo, telah mengungkapkan kondisi terbaru kiper berlabel Timnas Indonesia tersebut, yang sempat membuat cemas banyak pihak.
Insiden tersebut terjadi saat Riyandi berupaya mengamankan bola, namun nahas, ia bertabrakan dengan rekan setimnya, Alexvan Djin. Benturan keras ini membuat Riyandi terjatuh dan sempat tidak sadarkan diri di lapangan. Momen menegangkan itu memaksa tim medis segera bertindak cepat untuk memberikan pertolongan pertama.
Dokter Iwan menjelaskan, Riyandi terjatuh dengan posisi yang kurang ideal, di mana bagian pundak dan lehernya lebih dulu menyentuh rumput. Akibat benturan tersebut, Riyandi pingsan selama kurang lebih satu hingga dua menit dengan mulut tertutup, menimbulkan dugaan adanya lidah tertelan atau tongue swallowing. Kondisi ini terjadi akibat benturan keras di kepala yang dialaminya.
Memahami Insiden “Lidah Tertelan” dalam Sepak Bola
Istilah “lidah tertelan” atau tongue swallowing memang populer di dunia sepak bola, meskipun secara medis, lidah sebenarnya tidak benar-benar tertelan. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana lidah jatuh ke belakang dan menutup jalan napas. Biasanya, ini terjadi ketika seorang pemain mengalami benturan keras pada kepala, leher, atau rahang, misalnya saat duel udara, tabrakan antar pemain, atau terjatuh dalam posisi yang tidak stabil.
Benturan semacam itu dapat menyebabkan pemain kehilangan kesadaran sementara. Ketika kesadaran hilang, otot-otot tubuh, termasuk lidah, akan menjadi lemas. Kondisi ini memungkinkan lidah untuk jatuh ke arah belakang tenggorokan, secara efektif menghalangi saluran napas. Tentu saja, sumbatan jalan napas ini sangat berbahaya; pemain berisiko mengalami kesulitan bernapas hingga kekurangan oksigen.
Dalam kasus yang lebih parah dan jika tidak segera ditangani, kekurangan oksigen dapat menyebabkan pingsan lebih lama, kerusakan otak, bahkan berpotensi mengancam nyawa. Inilah alasan utama mengapa tim medis dalam pertandingan sepak bola profesional selalu sigap dan segera berlari ke lapangan begitu ada pemain yang terlihat tidak sadarkan diri. Penanganan awal yang krusial adalah dengan membuka jalan napas, bisa dengan memiringkan kepala atau menarik lidah ke depan agar saluran napas kembali terbuka. Langkah cepat ini sangat vital untuk memastikan pemain dapat bernapas kembali dengan normal dan aman.
Bagi pemain yang pernah mengalami insiden serupa, dampaknya bisa bervariasi, mulai dari pingsan singkat dan pusing akibat benturan, hingga kasus yang lebih serius seperti gegar otak (concussion). Gegar otak memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut dan periode istirahat dari pertandingan untuk memastikan pemulihan yang optimal. Para ahli medis senantiasa menegaskan bahwa yang terjadi adalah sumbatan jalan napas akibat lidah yang jatuh ke belakang saat pemain tidak sadar, dan penanganan cepat dari tim medis adalah kunci utama untuk keselamatan dan pemulihan pemain.
Penanganan Cepat dan Kondisi Terkini Riyandi
Melihat kondisi Riyandi yang tidak sadarkan diri, Dokter Iwan dan tim medis Persis Solo langsung memberikan pertolongan awal di lapangan. Setelah jalan napas Riyandi berhasil dibebaskan, ia pun siuman, mampu membuka mata, dan berkomunikasi dengan baik. Tanpa menunggu lama, tim medis memasangkan oksigen dan segera melarikan Riyandi ke Rumah Sakit JIH untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan dan pemeriksaan menyeluruh.
Di Rumah Sakit JIH, Riyandi menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk rontgen. Hasil pemeriksaan membawa kelegaan besar bagi Dokter Iwan dan seluruh tim. “Di JIH dilakukan pemeriksaan rontgen dengan hasil normal, hanya ada musculer paravertebal spasme atau ketegangan otot leher,” ungkap Iwan, memastikan bahwa tidak ada cedera serius pada kepala Riyandi seperti yang sempat dikhawatirkan.
Kini, kiper muda tersebut telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah menjalani observasi selama tiga jam. Meskipun demikian, tim dokter Persis Solo akan terus memantau perkembangan kesehatan Riyandi secara ketat selama 2×24 jam ke depan untuk memastikan pemulihan total dan kesiapannya kembali ke lapangan hijau.














