Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Kendati demikian, Novel mendesak agar kasus kejahatan serius ini dapat diusut hingga tuntas, menjangkau seluruh pihak yang terlibat.
“Tadi juga saya mendapat informasi bahwa dari Polri sudah melakukan beberapa langkah investigasi, tentunya kita ingin apresiasi juga,” ujar Novel, seperti dikutip dari kanal YouTube LBH Indonesia pada Jumat (13/3). Pernyataan ini menegaskan harapannya agar momentum penyelidikan awal ini dapat terus berlanjut secara komprehensif.
Novel mengungkapkan bahwa ia telah meninjau rekaman CCTV yang merekam detik-detik krusial insiden penyerangan terhadap Andrie. Dari pengamatannya, Novel meyakini bahwa aksi kejahatan tersebut telah direncanakan dengan matang dan dilakukan secara terorganisir. “Dari CCTV yang saya perhatikan, saya yakin pelakunya terorganisir, pelakunya enggak satu motor yang berdua gitu, nggak. Terorganisir. Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan, sehingga ketika menyerang begitu terorganisir,” jelasnya.
Lebih jauh, Novel menduga bahwa para pelaku sejatinya memiliki niat untuk merenggut nyawa Andrie. Dugaan ini menguat mengingat lokasi penyiraman air keras yang menargetkan bagian wajah korban. “Serangannya itu saya yakin maksudnya membunuh. Kenapa disiram pelakunya ini menyiram air keras di area muka. Kalau area muka itu kena air keras kemungkinan besar gagal napas dan bisa meninggal orang,” terang Novel. Ia menambahkan bahwa setidaknya, pelaku bermaksud menyebabkan cacat permanen pada Andrie.
Melihat betapa keji dan terencana serangan ini, Novel tidak ragu menyebutnya sebagai “kejahatan yang sangat serius dan biadab.” Oleh karena itu, ia menuntut Polri tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap siapa aktor intelektual di balik penyerangan brutal ini. “Pengusutan ini harus dilakukan dengan menyeluruh. Semua orang yang terlibat harus diusut. Aktor intelektualnya harus disentuh, harus dijangkau, dan diberikan pertanggungjawaban yang berat,” tegas Novel, menekankan pentingnya akuntabilitas penuh.
Adapun insiden penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Peristiwa nahas ini terjadi saat Andrie dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Tiba di sebuah perempatan yang terletak di kawasan Jalan Salemba I-Talang, Andrie diadang oleh dua orang terduga pelaku.
Berdasarkan informasi yang berhasil diidentifikasi, ciri-ciri kedua pelaku dapat digambarkan. Pelaku pertama, yang bertindak sebagai pengemudi, terlihat mengenakan kaus kombinasi warna putih dan biru, celana gelap yang diduga berbahan jins, serta helm berwarna hitam. Sementara itu, pelaku kedua yang membonceng, menggunakan masker penutup wajah berwarna hitam, kaus biru tua, dan celana panjang jins berwarna biru yang dilipat pendek. Detail ini diharapkan dapat menjadi petunjuk penting bagi pihak kepolisian dalam melacak dan menangkap para pelaku serta mengungkap motif di balik kejahatan keji ini.












