Indonesia mendesak Israel dan Amerika Serikat untuk segera menghentikan serangan terhadap Iran. Desakan ini muncul seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan kedua.
Eskalasi serius ini bermula pada Sabtu (28/2), ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan masif terhadap Iran. Insiden krusial tersebut menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu reaksi keras.
Menanggapi serangan mematikan itu, Iran tidak tinggal diam dan melancarkan aksi balasan. Serangan balasan ini tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara Teluk, menandai perluasan area konflik.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) telah menerima laporan dari perwakilan di lapangan mengenai kondisi keamanan yang semakin memburuk di kawasan. Menurut Kemlu RI, situasi di sana digambarkan sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas.
Menyikapi perkembangan ini, Pemerintah Indonesia kembali menegaskan keprihatinan mendalam atas peningkatan dan meluasnya ketegangan di Timur Tengah serta dampaknya yang meresahkan. Dalam pernyataannya, Kemlu RI secara tegas menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel agar menghentikan agresi terhadap Iran.
Pada saat yang sama, Indonesia juga mendesak Iran untuk menghentikan serangan yang menargetkan negara-negara tetangga di kawasan. Negara-negara yang menjadi sasaran tersebut termasuk Perserikatan Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Oman, Bahrain, Kuwait, dan Yordania, menunjukkan keprihatinan Indonesia terhadap keamanan regional yang lebih luas.
Kemlu RI mengingatkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik Timur Tengah memiliki kewajiban fundamental untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip hukum internasional. Kewajiban ini khususnya mengenai larangan penggunaan kekerasan yang melanggar kedaulatan dan integritas teritorial suatu negara.
Oleh karena itu, Indonesia secara konsisten mendorong semua pihak untuk menahan diri secara maksimal, meredakan ketegangan, dan kembali ke meja perundingan. Jalur dialog dan diplomasi ditekankan sebagai satu-satunya jalan yang konstruktif menuju solusi damai dan berkelanjutan.
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, Pemerintah Indonesia terus memantau secara cermat dampak konflik terhadap keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan. Langkah-langkah kontingensi telah disiapkan guna mengantisipasi kemungkinan repatriasi dari berbagai negara jika kondisi di lapangan mengharuskan evakuasi demi keselamatan WNI.












