Harga bahan bakar minyak (BBM) dan solar di Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan signifikan, imbas dari ketegangan geopolitik yang memuncak antara AS, Israel, dan Iran. Konflik ini, yang telah membatasi ekspor minyak dan bahan bakar global, berpotensi menjadi tantangan politik serius bagi Partai Republik, yang kepemimpinannya diasosiasikan dengan Donald Trump, menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
Berdasarkan laporan dari Reuters pada Sabtu (7/3), kenaikan harga bahan bakar ini telah melampaui 10 persen dalam sepekan terakhir, seiring dengan meroketnya harga minyak mentah yang kini menembus angka di atas 90 dolar AS per barel. Fenomena ini menandai lonjakan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, kian memperberat beban finansial konsumen yang sebelumnya telah bergelut dengan tekanan inflasi.
Data terbaru dari asosiasi pengendara AAA pada Jumat (6/3) menunjukkan bahwa rata-rata harga bensin reguler secara nasional mencapai 3,32 dolar AS per galon. Angka ini merupakan kenaikan 11 persen dari minggu sebelumnya dan menjadi titik tertinggi sejak September 2024. Sementara itu, harga solar juga tidak luput dari kenaikan drastis, mencapai 4,33 dolar AS per galon, melonjak 15 persen dari pekan lalu, dan menembus level tertinggi sejak November 2023.
Merespons lonjakan ini, mantan Presiden Trump, dalam sebuah wawancara dengan Reuters, terkesan menepis kekhawatiran tersebut. Ia hanya berkomentar singkat, “Jika mereka (BBM) naik, mereka naik,” seolah mengindikasikan penerimaan atas kondisi tersebut.
Padahal, selama masa kampanyenya untuk masa jabatan kedua, Trump berulang kali berjanji akan menurunkan harga energi dan meningkatkan kapasitas pengeboran minyak dan gas di AS. Namun, rekam jejaknya selama menjabat justru ditandai oleh volatilitas pasar yang tinggi dan ketidakpastian kebijakan, terutama akibat perubahan tarif perdagangan dan berbagai gejolak geopolitik global.
Sebagai negara produsen minyak terbesar di dunia, Amerika Serikat juga berperan sebagai eksportir utama. Namun, ironisnya, AS juga mengimpor jutaan barel minyak setiap hari, mengingat statusnya sebagai konsumen minyak terbesar secara global.

Lonjakan harga BBM ini tidak hanya terasa di kota-kota besar, namun justru memukul telak para pengendara di beberapa wilayah krusial, khususnya di Midwestern dan Selatan AS. Wilayah-wilayah ini, yang dikenal sebagai basis pendukung kuat Donald Trump, telah menyaksikan kenaikan harga bahan bakar paling tajam sejak konflik di Iran memanas.
Ambil contoh Georgia, sebuah negara bagian yang sering kali menjadi penentu hasil pemilihan umum. Menurut situs pelacak bahan bakar GasBuddy, harga rata-rata bensin eceran di sana melonjak 40,1 sen per galon hanya dalam seminggu terakhir. Kenaikan drastis ini mengejutkan banyak warga, termasuk Andrenna McDaniel, seorang pekerja asuransi kesehatan di South Fulton, Georgia. “Mereka (harga) langsung berubah begitu cepat,” keluhnya, seraya mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap perang AS-Israel dengan Iran. McDaniel kini harus membatasi perjalanannya hanya untuk keperluan yang paling esensial, dan merasa beruntung bisa bekerja dari rumah sehingga tidak terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Kondisi serupa juga terjadi di negara bagian lain; Indiana mencatat kenaikan harga sebesar 44,3 sen, sementara West Virginia mengalami lonjakan 43,9 sen per galon.
Para analis pasar memproyeksikan bahwa kesulitan ini akan terus berlanjut. Tren kenaikan harga minyak mentah masih sangat dominan, terbukti pada Jumat lalu ketika harga minyak berjangka AS ditutup pada 90,90 dolar AS per barel. Angka ini mencerminkan kenaikan hampir 10 dolar AS dalam sehari, yang merupakan lonjakan harian terbesar sejak April 2020.
Patrick De Haan, seorang analis dari GasBuddy, memperingatkan, “Mengingat kondisi pasar saat ini, harga rata-rata bensin nasional berpotensi naik hingga 3,50 hingga 3,70 dolar AS per galon dalam beberapa hari mendatang, jika harga minyak terus meningkat dan gangguan pasokan tidak mereda.”
Gangguan rantai pasokan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak vital, secara langsung telah memicu peningkatan permintaan minyak AS dari pasar internasional. Fenomena ini, pada gilirannya, turut mendorong kenaikan harga pada kilang-kilang minyak domestik.
Meskipun AS telah berhasil melepaskan diri dari ketergantungan signifikan terhadap minyak mentah Timur Tengah, tidak demikian halnya dengan kilang-kilang di Asia, dan sebagian di Eropa. Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di OPIS, menjelaskan, “Itulah yang Anda lihat terjadi di pasar spot; ketika permintaan ekspor AS meningkat, harga pun ikut naik.”
Selain faktor geopolitik, tekanan harga juga diperparah oleh pola musiman. Secara historis, harga bensin cenderung meningkat di musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas. Hal ini disebabkan oleh peningkatan permintaan dari para pengendara yang bepergian dan proses produksi bensin campuran musim panas yang memang lebih mahal.
Khusus untuk bahan bakar solar, lonjakan harganya bahkan lebih agresif. Kondisi ini terutama terjadi setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap AS dan Israel, yang berujung pada gangguan signifikan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Keterbatasan pasokan solar global menjadi isu krusial, didorong oleh tingginya permintaan untuk kebutuhan pemanasan dan pembangkit listrik, terutama selama musim dingin yang berkepanjangan di AS dan belahan dunia lainnya. Selain itu, keterbatasan kapasitas kilang secara struktural juga turut memperburuk kondisi ini.
Para analis sepakat bahwa kenaikan harga solar memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian. Pasalnya, solar merupakan bahan bakar utama untuk transportasi barang, sektor manufaktur, pertanian, dan pengiriman global. Dengan demikian, lonjakan harga solar pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara menyeluruh, mulai dari kebutuhan pokok hingga furnitur, kian menekan daya beli masyarakat.













