Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, angkat bicara mengenai kondisi terkini salah satu pemainnya, Febri Hariyadi, yang kini tengah menghadapi tantangan berat setelah kembali dihantam cedera ACL. Kabar mengenai cedera ini mencuat setelah Febri menjalani masa peminjaman di Persis Solo.
Febri Hariyadi, yang merupakan jebolan asli Diklat Persib, secara resmi telah kembali ke markas Pangeran Biru setelah cedera ligamen krusiat anterior (ACL) kembali menyerang saat ia mengikuti sesi latihan bersama tim berjuluk Laskar Sambernyawa tersebut. Seharusnya, Febri akan menjalani masa peminjaman di Persis Solo hingga akhir musim 2026, namun cedera parah ini memaksanya untuk kembali ke Bandung lebih cepat dari yang dijadwalkan.
Bojan Hodak menegaskan bahwa pihak klub, dalam hal ini Persib Bandung, akan terus memantau perkembangan kondisi Febri Hariyadi. “Febri sudah bertemu dengan dokter dan kami masih menunggu hasilnya. Saya belum mengetahui hasil dari second opinion-nya,” ungkap Bojan Hodak melalui laman resmi Persib. Ia menambahkan pentingnya untuk mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada pemain andalannya itu.
Menurut Bojan Hodak, meskipun status Febri saat ini adalah pemain pinjaman di Persis Solo, Persib sebagai klub induk memiliki tanggung jawab penuh untuk menentukan perawatan terbaik baginya. “Dia adalah pemain kami, dia pergi ke sana (Persis Solo) secara pinjaman. Jadi, begitu kami tahu seberapa parah cederanya, baru kami bisa menentukan apakah dia perlu menjalani operasi atau tidak,” jelas pelatih asal Kroasia tersebut.
Di tengah kabar cedera yang menyelimuti, ada pula berita positif dari talenta muda Indonesia lainnya, Marselino Ferdinan. Gelandang Timnas Indonesia ini dikabarkan telah kembali berlatih setelah absen tiga bulan akibat cedera dan kini mengonfirmasi kepulangannya untuk bergabung kembali dengan Oxford United. Perkembangan ini tentu menjadi angin segar bagi sepak bola nasional.
Febri Hariyadi mengalami cedera saat sesi latihan bersama Persis Solo menjelang pertandingan melawan Persik Kediri pada akhir Februari 2026 lalu. Dokter tim Persis Solo, Iwan Wahyu, kemudian memberikan penjelasan detail bahwa cedera yang dialami winger pinjaman dari Persib tersebut adalah cedera ACL kambuhan. “Pada saat shooting, Febri Hariyadi salah tumpuan di lutut kirinya. Sehingga lutut kirinya kembali mengalami cedera,” ujar dokter Iwan.
Setelah dilakukan pemeriksaan MRI dua hari setelah insiden tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa Febri kembali mengalami cedera ACL pada tempat yang sama seperti yang terjadi pada tahun 2024. Lebih lanjut, selain cedera ACL, Febri Hariyadi juga didiagnosis menderita cedera meniscus. Kombinasi dua cedera ini membuat tindakan operasi menjadi sangat krusial dan tidak dapat ditunda.
“Tadi dari hasil MRI, didapatkan dua cedera, yang pertama cedera ACL lagi kemudian yang kedua ada meniscus,” kata Dokter Iwan. “Hari ini tadi kita sudah konsultasi ke dokter ortopedi dan memang harus diharuskan untuk segera naik meja operasi.” Apabila operasi berjalan, Febri Hariyadi diperkirakan harus menepi dari lapangan hijau selama enam hingga delapan bulan ke depan untuk proses pemulihan.
Sementara itu, dinamika regulasi dan sanksi juga menjadi perhatian di kancah sepak bola nasional. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI baru-baru ini menjatuhkan sanksi kepada Persita, yang harus merogoh kocek Rp50 juta karena tidak membawa jersey kiper Hokky Caraka. Insiden ini, bersamaan dengan ulah suporter yang kerap merugikan klub, menjadi sorotan penting dalam upaya menjaga integritas Liga Indonesia.
Dalam konteks representasi Indonesia di kancah internasional, sebuah pola menarik kembali terjadi. Sudah dua musim beruntun, Liga Indonesia diwakili oleh tim-tim papan bawah dalam ajang AFC Challenge League, sebuah fakta yang memicu diskusi mengenai kualitas dan strategi klub-klub Indonesia di kompetisi regional.















