News Stream Pro – JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot terus menunjukkan tren pelemahan signifikan, menutup perdagangan hari ini, Jumat (6/3/2026), di level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS).
Performa ini menandai penurunan sebesar 0,12% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang tercatat di angka Rp 16.902 per dolar AS. Dengan depresiasi ini, rupiah semakin mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, sebuah ambang batas yang sering menjadi perhatian para pelaku pasar.
Kondisi pasar keuangan Indonesia yang cenderung lesu hari ini sejalan dengan dinamika pergerakan mata uang di Asia secara keseluruhan yang menunjukkan variasi. Meskipun demikian, ada indikasi bahwa wilayah Asia Pasifik secara lebih luas mungkin menawarkan prospek yang berbeda, sebagaimana terlihat dari pergerakan beragam mata uang regional.
Hingga pukul 15.14 WIB, beberapa mata uang di Asia turut mengalami tekanan. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam di kawasan ini, anjlok 0,66% terhadap dolar AS. Diikuti oleh rupee India yang terkoreksi 0,09%, serta ringgit Malaysia yang tertekan 0,08%. Sementara itu, dolar Hong Kong juga tercatat turun 0,06%, dan baht Thailand menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,01% terhadap the greenback.
Berbanding terbalik dengan tren pelemahan tersebut, sejumlah mata uang di Asia justru berhasil menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan melonjak 0,77%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada hari ini. Diikuti oleh dolar Singapura yang terangkat 0,23% dan yuan China yang berhasil terkerek 0,19%. Selain itu, dolar Taiwan juga ditutup naik 0,1%, dan yen Jepang memperlihatkan penguatan tipis 0,04% di akhir perdagangan hari ini.













