SEDIKITNYA 87 orang tewas dan puluhan lainnya masih hilang setelah sebuah kapal selam Amerika Serikat menembakkan torpedo ke kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, dekat Samudera Hindia. Tragedi yang mengguncang kawasan ini dikonfirmasi oleh para pejabat pada hari Rabu.
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, pada hari yang sama mengakui bahwa kapal selam AS bertanggung jawab atas insiden tersebut. “Kemarin di Samudera Hindia… kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran yang merasa dirinya aman saat berada di perairan internasional,” ujar Hegseth dalam sebuah konferensi pers terkait operasi militer terhadap Iran, seperti dilansir Sputnik dan dikutip Antara. Ia menambahkan, “faktanya, tadi malam, kami juga telah menembak kapal mereka yang paling berharga, yaitu kapal perang Soleimani.” Hegseth menyebut serangan ini sebagai “kematian senyap” dan menandai penenggelaman kapal musuh pertama oleh AS dengan torpedo sejak Perang Dunia II, menegaskan bahwa AS “berjuang untuk menang,” seperti dilansir France24.
Merespons darurat ini, Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, pada hari Rabu memastikan angkatan laut dan angkatan udara negaranya telah mengerahkan bantuan untuk mengevakuasi awak dari kapal Iran yang tenggelam tersebut. Sebanyak 32 korban berhasil dievakuasi ke rumah sakit di Sri Lanka. Herath menjelaskan bahwa bantuan diluncurkan sejak pukul 06:00 pagi dengan pengiriman kapal AL pertama, disusul kapal AL kedua pada pukul 07:00 pagi, menunjukkan koordinasi erat antara satuan AL dan AU Sri Lanka dalam operasi penyelamatan.
Panggilan darurat dari kapal fregat itu diterima pada Rabu subuh, dan kurang dari satu jam kemudian, sebuah kapal penyelamat telah mencapai lokasi kejadian, sekitar 40 kilometer selatan pelabuhan Galle. Namun, Herath mengonfirmasi bahwa kapal fregat tersebut telah tenggelam sepenuhnya, hanya menyisakan bercak minyak di permukaan laut ketika kapal penyelamat angkatan laut mendekat. “Kami terus melakukan pencarian, tetapi kami belum tahu apa yang terjadi pada awak kapal lainnya,” kata seorang pejabat pertahanan Sri Lanka, seraya menambahkan bahwa setidaknya 87 jasad pelaut Iran telah ditemukan dan 61 lainnya masih hilang setelah kapal tempur tersebut diserang.
Herath lebih lanjut menjelaskan bahwa sinyal darurat diterima pada pukul 05:08 pagi waktu setempat, mengindikasikan kapal AL Iran bernama IRIS Dena tenggelam di luar batas perairan Sri Lanka, tepatnya di Samudera Hindia. Kapal tempur itu membawa sekitar 180 kru, dan 30 di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Menurut Herath, berdasarkan Konvensi Internasional Pencarian dan Penyelamatan Maritim (Konvensi SAR) 1979 yang telah diratifikasi Sri Lanka, negaranya memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan bagi kapal yang menghadapi situasi darurat, terlepas dari asal kebangsaan, penyebab, atau lokasi peristiwa, bahkan di luar perairan teritorialnya.
Sementara itu, juru bicara AL Sri Lanka, Buddhika Sampath, menegaskan bahwa operasi SAR masih berjalan intensif. “Kami menemukan para korban mengapung di laut dan menyelamatkan mereka,” kata Sampath dalam sebuah konferensi pers, sebagaimana dikutip Newswire, seraya menambahkan bahwa setelah diidentifikasi, korban diketahui berasal dari kapal Iran. “Kami segera mengevakuasi mereka ke RS Pendidikan Karapitiya, di mana mereka menerima pertolongan medis.” Sampath juga mengungkapkan bahwa ketika personel AL Sri Lanka tiba di lokasi kejadian setelah merespons sinyal darurat, kapal Iran yang dimaksud sudah tak diketahui keberadaannya, dan yang terlihat hanyalah sisa tumpahan minyak.
Kapal IRIS Dena tersebut membawa sekitar 180 awak dan sedang dalam perjalanan kembali setelah berpartisipasi dalam Tinjauan Armada Internasional 2026 yang berlangsung bulan lalu di kota pesisir Vishakapatnam, India timur. Ironisnya, kapal tersebut diketahui berada dalam kondisi senjata terkunci, dan sebagian besar awaknya bukanlah personel tempur, menambah tragisnya insiden ini.
Insiden penenggelaman kapal perang ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Serangan udara gabungan terhadap Iran telah berlangsung selama lima hari, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan hampir 800 orang lainnya, termasuk puluhan siswi. Teheran telah merespons dengan serangan drone dan rudal terhadap Israel serta aset-aset yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk, menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk enam anggota militer AS yang tewas dan banyak lainnya terluka.
Eskalasi konflik dan jatuhnya korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memicu berbagai reaksi internasional. Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas ini, Presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, turut menyampaikan duka cita atas wafatnya Ali Khamenei, mencerminkan perhatian global terhadap dinamika di kawasan tersebut.













