Presiden Prabowo Subianto menunjukkan langkah proaktif dalam merespons dinamika geopolitik global dengan mengundang jajaran pemimpin terdahulu ke Istana Merdeka. Pada Selasa, 3 Maret malam, pertemuan penting ini melibatkan para presiden dan wakil presiden terdahulu, ketua umum partai politik, serta mantan menteri luar negeri. Meskipun disebut sebagai silaturahmi Ramadan, agenda utama yang dibahas selama hampir empat jam adalah perkembangan geopolitik terkini, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, AS, dan Iran.
Prabowo Menggali Masukan dari Para Pendahulu
Langkah Presiden Prabowo mengundang para pemimpin bangsa ini bertujuan untuk mendapatkan perspektif komprehensif. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi platform bagi Prabowo untuk menyampaikan perkembangan situasi global pascakunjungan luar negerinya. Lebih dari itu, Presiden juga ingin mendengarkan langsung pandangan dan masukan berharga dari para pendahulunya.
“Pak Presiden ingin memberikan pembaruan situasi geopolitik terbaru dan juga mendengar masukan untuk perencanaan mitigasi dampaknya bagi Indonesia,” ungkap Dasco, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam menghadapi tantangan global.
Pertemuan bersejarah ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, menunjukkan konsensus nasional dalam isu-isu strategis. Para hadirin tersebut meliputi:
- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono
- Presiden ke-7 RI Joko Widodo
- Wakil Presiden ke-10 & 12 Jusuf Kalla
- Wakil Presiden ke-11 Boediono
- Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
Selain para pemimpin negara, sejumlah ketua umum partai politik terkemuka dan menteri Kabinet Merah Putih turut hadir, memperkuat representasi dan dukungan terhadap inisiatif Presiden Prabowo.
Indonesia Siaga Evakuasi WNI dari Iran
Menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipatif demi keselamatan warga negaranya. Menteri Luar Negeri Sugiono mengumumkan bahwa pihaknya telah memerintahkan Duta Besar RI di Teheran untuk mempersiapkan rencana evakuasi bertahap bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran dan ingin kembali ke tanah air.
“Saya perintahkan untuk ambil langkah-langkah evakuasi segera jika memang ada masyarakat Indonesia yang menginginkan,” tegas Sugiono. Meski demikian, evakuasi ini bersifat opsional dan akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan, memastikan keputusan yang tepat bagi keamanan WNI.
Di samping upaya evakuasi, Sugiono juga menyampaikan komitmen Presiden Prabowo untuk mendorong agar konflik Israel-AS dan Iran kembali ke meja perundingan. Indonesia bahkan menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai mediator, menawarkan diri sebagai jembatan dialog guna menurunkan eskalasi dan mencapai resolusi damai.
“Kita menekankan pentingnya kembali ke meja perundingan dan keinginan Presiden untuk menjadi mediator,” kata Sugiono, menegaskan posisi diplomatik Indonesia yang aktif dalam menciptakan stabilitas global.
Evaluasi Posisi RI di Board of Peace
Isu krusial lain yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah evaluasi terhadap posisi Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP). Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo berencana untuk meninjau efektivitas keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional tersebut.
“Kalau tidak efektif, ya kita keluar. Itu sangat jelas,” ujar Hassan, menunjukkan ketegasan pemerintah dalam memastikan kontribusi Indonesia dalam forum global benar-benar berdampak positif.
Namun, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, memiliki pandangan bahwa hingga saat ini Indonesia masih memiliki peran strategis dalam BoP. Ia juga membuka ruang untuk melakukan evaluasi bersama negara-negara anggota lainnya, menunjukkan pendekatan yang fleksibel dan kolaboratif dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan.
















