Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, telah memberikan tanggapan terkait tawaran Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator perdamaian dalam konflik antara Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Boroujerdi menyatakan apresiasinya terhadap niat baik yang disampaikan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada langkah konkret yang diambil terkait usulan tersebut, dan pihaknya masih mempertanyakan efektivitas mediasi semacam itu. Pernyataan ini disampaikan oleh Boroujerdi di Kedutaan Besar Iran di Jakarta pada hari Senin (2/3).
Meskipun demikian, Duta Besar Boroujerdi menegaskan bahwa peluang untuk berkomunikasi dan berdialog antara pemerintah Indonesia dan Iran tetap terbuka lebar. “Komunikasi dan pembicaraan sangat memungkinkan,” ujarnya. Namun, ia belum bisa memberikan kepastian mengenai potensi mediasi, atau apakah upaya tersebut akan membuahkan hasil dalam situasi yang kompleks seperti sekarang. Boroujerdi juga menambahkan bahwa jika kedua belah pihak, Iran dan Indonesia, berkeinginan untuk berinteraksi lebih lanjut guna mendapatkan informasi terkini mengenai situasi di Iran, hal tersebut sangat dimungkinkan untuk dilakukan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif di kawasan. Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) pada hari Sabtu (28/2), ditegaskan bahwa jika disetujui oleh kedua belah pihak yang berkonflik, Presiden Indonesia siap untuk bertolak ke Teheran guna menjalankan peran mediasi.
Pernyataan lengkap Kemlu menggarisbawahi keprihatinan mendalam Indonesia atas kegagalan perundingan antara AS dan Iran, yang berdampak pada eskalasi militer di Timur Tengah. Indonesia secara tegas menyerukan semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dan mengedepankan jalur dialog serta diplomasi. Lebih lanjut, Kemlu menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta penyelesaian perbedaan melalui cara-cara damai. Komitmen pemerintah Indonesia, melalui Presiden Republik Indonesia, untuk memfasilitasi dialog demi mengembalikan keamanan yang kondusif, serta kesediaan Presiden untuk pergi ke Teheran sebagai mediator, menjadi penegas peran aktif Indonesia dalam upaya meredakan ketegangan. Kemlu juga mengingatkan bahwa peningkatan ketegangan di Timur Tengah memiliki potensi besar untuk mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam perdamaian serta keamanan global secara keseluruhan.












