Dunia berduka atas kabar duka dari Iran: Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, istri mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah meninggal dunia. Kabar ini diumumkan oleh kantor berita Tasnim, mengakhiri spekulasi tentang kondisi kesehatan beliau setelah insiden tragis baru-baru ini.
Wanita berusia 79 tahun itu diketahui menjadi salah satu korban dari serangan yang dituduhkan kepada Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari lalu. Serangan mematikan tersebut, yang juga menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, meninggalkan Bagherzadeh dalam kondisi kritis. Ia sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit namun sayangnya, sejak hari kejadian, beliau telah berada dalam kondisi koma sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Kematian Bagherzadeh menambah daftar panjang korban yang terus berjatuhan akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut. Insiden yang menimpanya hanyalah secuil gambaran dari dampak luas serangan balasan yang kini melanda berbagai penjuru Iran dan menimbulkan kerugian besar di kedua belah pihak.
Menyusul insiden tragis ini, Bulan Sabit Merah Iran secara berkala memperbarui data korban jiwa akibat serangkaian serangan yang mereka klaim dilakukan oleh Israel-AS. Hingga Senin, 2 Maret, organisasi kemanusiaan tersebut mencatat ratusan kematian. Sebuah pernyataan yang dilansir AFP dari kelompok humaniter itu menyebutkan, “Kami melaporkan ada 131 kota di penjuru Iran diserang Zionis-AS sejak Sabtu, 28 Februari. Sebanyak 555 kompatriot kami tewas.”
Lebih memilukan lagi, dari total angka tersebut, terdapat puluhan siswi sekolah dasar yang kehilangan nyawa di Minab, Iran Selatan. Selain itu, laporan juga menunjukkan bahwa sekitar 160 orang lainnya tewas karena tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat intensitas serangan.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga melaporkan kerugian signifikan di pihak mereka. Akibat serangan balasan dari Iran, tiga tentara AS gugur. Selain itu, sejumlah personel lainnya menderita luka-luka akibat ledakan, meskipun sebagian besar dari mereka kini dalam proses pemulihan dan diharapkan dapat kembali bertugas.
Melalui akun resminya di X (sebelumnya Twitter), CENTCOM menjelaskan, “Saat ini situasinya masih cair, maka untuk menghormati keluarga, kami menahan informasi termasuk identitas tentara yang gugur.” Pernyataan ini menunjukkan betapa gentingnya situasi di lapangan dan upaya menjaga privasi para korban serta keluarga mereka di tengah gejolak yang terus berlangsung.













