Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Minggu mengumumkan bahwa negaranya akan membuka pintu bagi Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan militernya. Keputusan krusial ini diambil demi “tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas,” menyusul eskalasi serangan rudal Iran yang mengancam stabilitas di kawasan Teluk.
Starmer menjelaskan bahwa Amerika Serikat telah mengajukan permohonan untuk memanfaatkan fasilitas militer Inggris guna misi defensif yang telah ditetapkan tersebut. “Kami telah mengambil keputusan untuk mengabulkan permintaan ini dengan tujuan mencegah Iran melancarkan tembakan rudal di seluruh kawasan, yang dapat menewaskan warga sipil tak bersalah, membahayakan nyawa warga Inggris, serta menyerang negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik,” tegas Starmer dalam pernyataannya. Ia menambahkan, dasar keputusan Inggris adalah prinsip pembelaan diri kolektif bersama sahabat dan sekutu lama, serta kewajiban untuk melindungi nyawa warga Inggris.
Latar belakang ketegangan ini bermula sejak Sabtu pagi, ketika Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran, yang berujung pada kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat tinggi keamanan lainnya. Insiden ini sontak memicu respons keras dari Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di wilayah tersebut. Aksi balasan ini memaksa banyak negara di kawasan Teluk untuk menutup wilayah udaranya sebagai langkah antisipasi. Otoritas Iran sendiri telah berjanji akan melancarkan pembalasan setelah mengonfirmasi wafatnya Ali Khamenei, mengumumkan masa berkabung selama 40 hari, dan membentuk dewan sementara hingga pengganti Ali Khamenei ditetapkan.
Meski demikian, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran dan tidak akan bergabung dalam tindakan ofensif yang mungkin terjadi selanjutnya. “Kami tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran dan kami tidak akan bergabung dalam tindakan ofensif sekarang,” ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa Inggris akan tetap melanjutkan tindakan defensif di kawasan tersebut. “Iran menjalankan strategi ‘bumi hangus’, sehingga kami mendukung pembelaan diri kolektif sekutu kami dan warga kami di kawasan, karena itu adalah kewajiban kami kepada rakyat Inggris,” kata Starmer.
Langkah ini, menurut Starmer, adalah “cara terbaik untuk menghilangkan ancaman mendesak” dan mencegah situasi di Teluk agar tidak semakin memburuk. Keputusan Inggris ini juga menjadi sorotan di tengah perdebatan global mengenai potensi konflik yang lebih luas, sebagaimana pandangan yang pernah disampaikan Donald Trump bahwa perang melawan Iran bisa berlangsung hingga empat pekan.













