Setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan terjadi pascaserangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu (28/2), sebuah langkah cepat diambil untuk memastikan keberlanjutan roda kepemimpinan. Ayatollah Alireza Arafi telah ditunjuk sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Sementara. Dewan ini bertugas menjalankan fungsi pemimpin tertinggi Iran hingga Majelis Ahli dapat memilih pengganti permanen.
Penunjukan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Iran untuk mengisi kekosongan kekuasaan yang mendadak. Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas menyusul insiden serangan yang disebut melibatkan Israel dan Amerika Serikat, yang menciptakan gejolak signifikan dalam lanskap politik dan keamanan regional.
Bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, Arafi — seorang ulama terkemuka sekaligus anggota Dewan Penjaga Konstitusi — menjadi bagian integral dari dewan transisi tersebut. Kehadirannya di posisi strategis ini menunjukkan peran sentral yang ia pegang dalam mekanisme pemerintahan Iran.
Konfirmasi penunjukan ulama berusia 67 tahun ini datang dari Dewan Kebijaksanaan (Dewan Penentu Kebijakan), sebuah lembaga berpengaruh yang berperan sebagai badan arbitrase dalam sistem politik Iran. Penegasan ini menegaskan legitimasi dan urgensi pembentukan kepemimpinan sementara di tengah situasi yang genting.
Arafi sendiri bukan hanya seorang pejabat sementara, melainkan juga salah satu figur kunci yang nantinya akan terlibat langsung dalam proses krusial pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru, seperti yang dilansir oleh Al-Jazeera pada Minggu (1/3). Sementara itu, dinamika kekuasaan di Iran di masa mendatang juga akan sangat dipengaruhi oleh peran berkelanjutan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, meskipun keseimbangan kekuatan di antara mereka masih belum sepenuhnya jelas.
Di tengah transisi kepemimpinan ini, situasi keamanan internal Iran tetap bergejolak. Kondisi diperparah dengan kabar pembunuhan Panglima Tertinggi IRGC untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Kekosongan kepemimpinan militer dan ekonomi elit ini menambah kompleksitas, mengingat sosok pengganti yang akan memimpin kekuatan vital tersebut belum diumumkan secara resmi.
Beberapa kanal Telegram yang terafiliasi dengan IRGC mengindikasikan Wakil Kepala IRGC Ahmad Vahidi sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut. Vahidi sendiri baru ditunjuk ke posisi wakil oleh mendiang Khamenei dua bulan sebelum wafatnya sang pemimpin tertinggi, menunjukkan kepercayaan yang besar terhadapnya.
Sebelumnya, pemerintah Iran telah menyiapkan mekanisme kepemimpinan sementara segera setelah kematian Khamenei dikonfirmasi. Tidak hanya itu, sebagai bentuk duka dan penghormatan, pemerintah Iran juga secara resmi menetapkan 40 hari masa berkabung atas wafatnya pemimpin tertinggi mereka. Konfirmasi mengenai masa berkabung ini disampaikan oleh kantor berita Tasnim dan Fars pada Minggu (1/3), dengan Fars melaporkan bahwa keputusan tersebut diambil tak lama setelah kematian Khamenei diumumkan secara resmi kepada publik.












