JAKARTA — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta menginisiasi langkah signifikan untuk memperkuat sektor properti di ibu kota. Organisasi ini secara aktif mendorong sekitar 25 pengembang properti skala menengah untuk melantai di bursa saham melalui Penawaran Umum Perdana (IPO) hingga periode tahun 2028.
Ketua Umum DPD REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar, menjelaskan bahwa inisiatif ambisius ini bertujuan untuk menghimpun dana segar minimal Rp5 triliun dari pasar modal. Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis perusahaan properti di Jakarta, termasuk pengelolaan utang yang lebih efektif serta penambahan modal untuk ekspansi dan pengembangan proyek. Langkah ini juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pembiayaan, agar para pengembang tidak hanya bergantung pada pembiayaan dari perbankan semata. Dengan demikian, pengembang memiliki opsi yang lebih luas dan fleksibel dalam memenuhi kebutuhan modal mereka.
“Kami menargetkan minimal 5% hingga 10% pengembang baru akan melakukan IPO, yang berarti sekitar 25 pengembang. Harapan kami, 25 pengembang berukuran menengah ini dapat bersama-sama meraih akses pendanaan dari pasar modal,” ujar Arvin saat ditemui di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (23/2/2026). Ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pada dimulainya proses administrasi dan persiapan teknis untuk IPO, bukan sekadar target pencatatan saham secara langsung. Rencana strategis pendanaan ini diproyeksikan akan berjalan secara bertahap, dimulai pada tahun 2026 dan berlanjut hingga tahun 2028, memberikan waktu yang memadai bagi para anggota REI untuk mempersiapkan diri masuk ke pasar modal.
Perhitungan target dana Rp5 triliun merupakan estimasi moderat. “Apabila minimum satu perusahaan berukuran menengah dapat memperoleh Rp100 miliar hingga Rp200 miliar, maka dengan 25 pengembang, total dana yang ditargetkan untuk sektor properti ini minimal mencapai Rp5 triliun,” tambah Arvin. Ia juga memberikan sinyal bahwa nilai tersebut berpotensi jauh lebih besar jika pengembang skala besar yang tergabung dalam REI DKI Jakarta turut berpartisipasi dalam penawaran umum perdana saham.
Upaya DPD REI DKI Jakarta ini selaras dengan tren positif di pasar modal serta berbagai inisiatif pemerintah dan pelaku industri lainnya untuk mendukung sektor properti. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatat delapan perusahaan dalam antrean IPO, di mana lima di antaranya memiliki aset skala besar, menunjukkan minat yang kuat terhadap pendanaan via pasar modal. Dukungan serupa juga datang dari pemerintah; Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, bahkan menginstruksikan agar para pengembang rumah subsidi mempertimbangkan IPO. Langkah ini diusulkan untuk memenuhi kebutuhan modal dalam mendukung target ambisius Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 3 juta rumah.
Maruarar Sirait menegaskan bahwa pembahasan terkait pasar modal bertujuan agar pembiayaan tidak harus selalu berasal dari perbankan, sehingga para pengembang memiliki lebih banyak pilihan dalam mencari modal. Dalam konteks yang lebih luas, DPD REI sendiri aktif mengapresiasi dan mendorong insentif seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), yang dinilai mampu memacu investasi di sektor properti dan menciptakan lingkungan yang semakin kondusif bagi pertumbuhan industri. Dorongan dari berbagai pihak ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dalam strategi pendanaan sektor properti, membuka peluang baru bagi pertumbuhan dan stabilitas industri tersebut.













