Komedian legendaris Tanah Air, Indro Warkop, turut angkat bicara menanggapi pelaporan hukum yang menimpa rekannya sesama komika, Pandji Pragiwaksono. Pelaporan ini mencuat pasca-penayangan acara komedi tunggal Pandji bertajuk Mens Rea. Indro menyatakan persetujuannya dengan pandangan mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, mengenai polemik yang mendera Pandji. “Kita harus banyak belajar, opini saya tertarik dengan bahasanya Pak Mahfud MD yang lebih mengerti soal hukum,” ujar Indro saat dijumpai usai Gala Premiere Film Bidadari Surga di Plaza Indonesia XXI, Jakarta Pusat, pada Jumat, 9 Januari 2026.
Mengaitkan polemik ini dengan sejarah kritik melalui komedi di Indonesia, Indro Warkop menyoroti pergeseran pola dari era Orde Baru. Kala itu, grup Warung Kopi yang digawanginya bersama Dono dan Kasino secara langsung melontarkan kritik kepada pemerintah. “Kalau dulu zaman saya pada penguasa, kalau sekarang penguasa mempergunakan orang lain kepada kita,” tuturnya, menyiratkan perubahan dinamika dalam menyikapi kritik sosial. Indro juga secara khusus menyoroti komedi politik Pandji di panggung komedi tunggal, yang menjadi salah satu bentuk ekspresi kritik masa kini.
Lebih lanjut, Indro mengingatkan pentingnya untuk “berhati-hati” dalam berekspresi sekaligus memahami kembali makna Sumpah Pemuda dalam konteks kebebasan berpendapat. Indro sangat menyayangkan pelaporan terhadap Pandji yang menurutnya seharusnya tidak perlu terjadi, menilai insiden ini sebagai sebuah kemunduran cara berpikir, mengingat hakikat komedi sebagai medium ekspresi dan refleksi sosial.
Meski demikian, Indro menegaskan enggan turut campur dalam substansi materi yang dibawakan Pandji dalam Mens Rea. Baginya, konten tersebut merupakan ranah pribadi dan keyakinan sang komika. “Kalau saya enggak pengin masuk kepada itunya ya, karena itu kan keyakinan dia,” ucap Indro, menghormati pilihan kreatif Pandji.
Kontroversi yang melingkupi Pandji Pragiwaksono bermula ketika ia dilaporkan ke pihak berwajib oleh kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Muda Muhammadiyah dan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama pada Kamis, 8 Januari 2026. Pelaporan ini didasari dugaan penghasutan di muka umum serta penistaan agama, menyusul tayangan pertunjukan komedi tunggalnya, Mens Rea, yang dapat diakses melalui platform Netflix. Menariknya, dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, belakangan telah membantah keras terlibat dalam pelaporan tersebut. Keduanya bahkan menegaskan tidak mengenal dan tidak memiliki lembaga dengan nama “aliansi muda” seperti yang disebutkan pelapor.
Menanggapi pelaporan ini, Pandji Pragiwaksono menunjukkan sikap bijak, sebagaimana yang ia sampaikan setelah dilaporkan ke polisi. Ia menyatakan menghormati hak setiap individu untuk melapor ke aparat penegak hukum, seraya menegaskan prinsip kebebasan berekspresi. “Kalau saya ingin diberi keleluasaan untuk ngomongin apa pun yang saya mau, maka orang lain juga punya keleluasaan untuk ngomong apa pun yang mereka mau,” ujar Pandji kepada Tempo dalam siaran langsung di TikTok pada Kamis, 8 Januari 2026. Lebih lanjut, Pandji juga menyatakan keterbukaannya untuk berdialog dengan pihak mana pun yang merasa tersinggung oleh materi lawakannya. Ia siap menjelaskan maksud dan konteks di balik setiap leluconnya, dengan harapan dapat mengklarifikasi kesalahpahaman. “Moga-moga sih tertawa pas saya jelaskan,” pungkas Pandji, optimis terhadap pendekatan dialogis.
CAHYA SAPUTRA dan NOVALI PANJI NUGROHO berkontribusi dalam penulisan artikel ini.













