PERISTIWA yang secara kasat mata memperlihatkan keterlibatan secara langsung Amerika Serikat di Venezuela pada awal 2026, kembali menempatkan negara itu di pusat perhatian dunia.
Namun, sorotan publik sering terjebak pada dramatisasi peristiwa, seolah krisis Venezuela lahir mendadak dan berdiri sendiri.
Padahal, apa yang terlihat hari ini merupakan ujung dari rangkaian proses panjang yang menyatukan kerentanan internal negara minyak dengan tekanan geopolitik eksternal yang bekerja secara bertahap.
Tanpa memahami dua lapisan ini secara bersamaan, Venezuela yang juga dikenal dengan julukan The Land of Grace itu akan terus dibaca secara dangkal, bergeser antara narasi negara gagal dan narasi korban intervensi, tanpa benar-benar menjelaskan mengapa situasi ekstrem seperti ini bisa tercipta.
Respons awal pasar minyak global memberi petunjuk penting tentang bagaimana dunia menilai posisi Venezuela saat ini.
Pada awal Januari 2026, harga minyak Brent bergerak di kisaran 60 – 61 dollar AS per barel, sementara WTI berada di sekitar 57 dollar AS per barel. Tidak terjadi lonjakan tajam sebagaimana yang lazim menyertai konflik geopolitik besar.
Kondisi ini bisa saja disalahartikan sebagai tanda bahwa peristiwa di Venezuela tidak signifikan. Padahal, justru mencerminkan penilaian pasar bahwa kapasitas Venezuela sebagai pemasok utama minyak global telah lama tergerus.
Baca juga: Penangkapan Nicolas Maduro: Antara Brutalitas Adidaya dan Lumpuhnya Lembaga Internasional
Produksi dan ekspornya sudah menyusut jauh sebelum eskalasi terbaru, sehingga risiko gangguan pasokan besar dianggap terbatas selama infrastruktur fisik tidak rusak secara luas.
Di titik inilah paradoksnya tampak. Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia tidak lagi diperlakukan pasar sebagai penentu keseimbangan energi global.
Justru karena kontribusinya telah lama terdiskon, eskalasi politik besar tidak langsung memicu kepanikan harga.
Kondisi ini menciptakan ruang geopolitik berbahaya, karena tindakan ekstrem menjadi lebih mudah dilakukan ketika biaya globalnya dianggap rendah.
Untuk memahami mengapa Venezuela sampai pada posisi ini, kerangka Coronil menawarkan penjelasan mendasar.
Dalam The Rise and Fall of the Oil Nation (1997), Venezuela digambarkan sebagai negara yang membangun kekuasaan, legitimasi, dan imajinasi pembangunan melalui rente minyak.
Sejak awal abad ke-20, minyak bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi cara negara membayangkan dirinya sendiri.
Negara tampil sebagai aktor yang mampu “menghadirkan kemajuan” melalui distribusi hasil minyak, proyek-proyek besar, dan stabilitas sosial yang dibiayai rente.
Puncak simbolik dari imajinasi ini terjadi pada 1976, ketika Venezuela menasionalisasi industri minyak dan membentuk PDVSA.
PDVSA (Petróleos de Venezuela, S.A.) didirikan pada 1976, dan merupakan perusahaan minyak dan gas milik negara Venezuela yang menjadi tulang punggung ekonomi, fiskal, dan politik negara tersebut.
Nasionalisasi tersebut bukan hanya langkah ekonomi, tetapi pernyataan kedaulatan dan modernitas.
Pada periode harga minyak tinggi, negara mampu memperluas subsidi, membiayai pembangunan, dan menjaga stabilitas relatif tanpa membangun basis perpajakan yang kuat atau diversifikasi ekonomi yang luas.
Dalam istilah Coronil, negara minyak tampil seolah mahakuasa, tetapi kekuasaan itu bersifat performatif dan sangat bergantung pada siklus harga global.
Kerentanan model ini mulai terlihat ketika arus rente melemah. Krisis utang dan penyesuaian struktural pada 1980-an menggerus kemampuan negara menjaga kontrak sosial distributif.
Ledakan sosial Caracazo pada 1989 menjadi titik balik penting, menandai runtuhnya kepercayaan publik terhadap negara yang tidak lagi mampu memenuhi janji kesejahteraan.
Dalam pembacaan Coronil, Caracazo bukan sekadar kerusuhan, melainkan momen ketika ilusi negara minyak mulai retak secara terbuka.
Kemenangan Hugo Chávez pada 1998 sering dibaca sebagai koreksi radikal terhadap kegagalan masa lalu. Chávez berjanji mengembalikan negara kepada rakyat dengan memperkuat kontrol atas minyak dan mendistribusikan kembali hasilnya.
Namun, meski ideologinya berbeda, struktur dasarnya tidak berubah. Minyak tetap menjadi pusat legitimasi. Politik Venezuela kemudian berputar di sekitar siapa yang mengendalikan rente dan bagaimana ia didistribusikan.
Baca juga: Invasi AS ke Venezuela: Hegemon Mengoyak Tata Dunia
Periode awal kekuasaan Chávez diuntungkan oleh lonjakan harga minyak global pada 2000-an, yang memberi ruang fiskal besar bagi program sosial dan konsolidasi politik.
Namun konflik elite tetap tajam, tercermin dalam percobaan kudeta 2002 dan pemogokan besar sektor minyak 2002–2003.
Peristiwa ini menegaskan bahwa PDVSA bukan sekadar perusahaan, melainkan jantung kekuasaan negara. Ketika negara kembali mengonsolidasikan kontrol, stabilitas pulih, tetapi tetap bergantung pada harga minyak.
Kerentanan struktural kembali terekspos setelah Chávez wafat dan Nicolás Maduro mengambil alih kekuasaan pada 2013.
Kejatuhan harga minyak global pada 2014–2016, menghantam Venezuela pada saat kapasitas institusionalnya sudah melemah. Distorsi makroekonomi, degradasi kapasitas produksi, dan konflik politik mempercepat kemunduran.
Dalam kerangka Coronil, negara minyak yang kehilangan rente tidak hanya kehilangan sumber dana, tetapi kehilangan bahasa politiknya.
Ketika negara tak lagi mampu mendistribusikan, ia cenderung mengandalkan polarisasi dan kontrol untuk mempertahankan kekuasaan.
Namun, membaca Venezuela hanya dari dalam juga tidaklah cukup. Di sinilah kerangka Kovalik menjadi relevan.
Dalam The Plot to Overthrow Venezuela, Kovalik memetakan bagaimana tekanan eksternal terhadap Venezuela bekerja secara sistematis dan bertahap.
Ia menekankan bahwa perubahan rezim di era kontemporer jarang dimulai dengan invasi militer terbuka. Ia lebih sering dimulai dengan sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, delegitimasi politik, dan kriminalisasi terhadap elite penguasa.
Sanksi memainkan peran penting dalam mempercepat disfungsi negara. Pembatasan akses ke pasar keuangan dan perdagangan minyak mempersempit kemampuan Venezuela menstabilkan ekonomi, bahkan ketika kesalahan internal sudah sedemikian berat.
Perdebatan di sini memang rumit. Sulit menyangkal bahwa salah urus internal berkontribusi besar terhadap krisis.
Namun, sulit pula mengabaikan bahwa tekanan eksternal memperdalam dan mempercepat kehancuran kapasitas negara, terutama dalam sektor-sektor vital seperti kesehatan, pangan, dan energi.
Kovalik juga menunjukkan bagaimana bahasa hukum dan hak asasi manusia sering digunakan secara selektif.
Tuduhan narkotika, korupsi, dan pelanggaran HAM terhadap elite Venezuela tidak selalu tanpa dasar, tetapi sering diposisikan dalam kerangka yang mengabaikan dampak kemanusiaan dari sanksi itu sendiri.
Kekerasan struktural akibat kelangkaan obat dan pangan jarang diperlakukan sebagai pelanggaran HAM dengan bobot yang sama.
Dalam konteks ini, krisis Venezuela bukan hanya hasil dari kegagalan internal, tetapi juga dari tekanan eksternal yang memanfaatkan kerentanan tersebut.
Ketika kedua kerangka ini dirangkai, eskalasi besar pada awal 2026 menjadi lebih dapat dipahami.
Baca juga: Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS dan Realisme Hukum International
Dari sisi internal, Venezuela berada pada fase negara rente yang hampir kehabisan bantalan fiskal dan politik.
Dari sisi eksternal, tekanan bertahun-tahun telah menyiapkan kondisi krisis yang membuat perubahan drastis tampak “tak terelakkan”.
Dari sisi global, kondisi pasar energi relatif longgar, sehingga risiko sistemik dianggap dapat dikelola.
Titik temu ketiganya menciptakan ruang bagi tindakan ekstrem.
Namun, penting ditegaskan bahwa membaca rangkaian sebab-akibat ini tidak dapat otomatis ditafsirkan sebagai persetujuan terhadap tindakan Amerika Serikat.
Penjelasan struktural bukanlah pembenaran normatif. Bahwa Venezuela mengalami krisis institusional, ekonomi, dan legitimasi yang dalam tidak otomatis menjadikan intervensi sepihak sah secara hukum internasional maupun bijak secara politik.
Prinsip kedaulatan, non-intervensi, dan proses hukum lintas negara tetap relevan, justru ketika negara berada dalam kondisi paling rapuh.
Sejarah menunjukkan bahwa tindakan koersif dari luar, sekalipun dibungkus narasi stabilisasi atau penegakan hukum, cenderung menggeser kontrol atas sumber daya tanpa menyelesaikan akar persoalan pembangunan.
Dalam konteks negara minyak, intervensi semacam ini lebih sering memperdalam ketergantungan dan polarisasi, alih-alih membangun fondasi institusional yang memungkinkan pemulihan jangka panjang.
Posisi ini juga tidak mengharuskan romantisasi rezim Venezuela. Kritik terhadap salah urus internal dan erosi institusi tetap sah dan perlu.
Namun, kritik tersebut kehilangan kekuatan jika digunakan untuk membenarkan pelanggaran prinsip-prinsip dasar tata kelola global.
Analisis yang berimbang justru menuntut kritik ganda, terhadap negara rente yang gagal membangun kapasitas jangka panjang, dan terhadap intervensi hegemonik yang memanfaatkan kegagalan tersebut.
Kasus Venezuela dengan demikian bukan anomali Amerika Latin. Ia adalah contoh ekstrem dari dilema pembangunan berbasis sumber daya.
Ketika negara terlalu lama bergantung pada satu komoditas, ia tampak kuat di permukaan, tetapi sesungguhnya justru rapuh di fondasi. Ketika krisis datang, ruang kompromi menyempit, dan negara menjadi sasaran empuk tekanan eksternal.
Coronil membantu menjelaskan mengapa fondasi itu rapuh. Kovalik menunjukkan bagaimana kerapuhan tersebut dimanfaatkan dalam politik global.
Harga minyak yang relatif stabil hari ini, bisa saja membuat orang berpikir bahwa situasinya aman-aman saja.
Padahal, ketenangan itu justru menyesatkan. Ia menutup pelajaran penting tentang rapuhnya negara yang terlalu bergantung pada rente, serta tentang bagaimana krisis di dalam negeri bisa bertemu dengan kepentingan global dalam cara yang paling keras.
Venezuela, dalam pengertian ini, bukan cuma soal satu negara. Ia menjadi pengingat tentang risiko pembangunan yang terlalu bergantung pada rente, sekaligus tentang betapa terbatasnya solusi koersif ketika berhadapan dengan masalah struktural yang sudah menumpuk menggunung selama puluhan tahun.
Bagi Indonesia, cerita Venezuela ini seharusnya jadi bahan pembelajaran, bukan sekadar tontonan yang kita pantau dari jauh.
Ketergantungan pada komoditas memang bisa memberi napas panjang dalam waktu tertentu, tapi ia juga menyimpan risiko kalau tidak dibarengi penguatan institusi dan ekonomi yang lebih beragam.
Negara bisa tampak stabil saat harga bagus, lalu goyah ketika siklus berubah. Pelajarannya, pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada pemasukan rente, dan persoalan struktural jarang selesai dengan langkah-langkah yang tidak taat aturan.
Yang lebih menentukan justru bagaimana negara membangun institusi yang kuat, menjaga ruang kebijakan sendiri, dan mengelola tekanan, baik dari dalam maupun dari luar, dengan kepala dingin. Itulah pengelolaan negara yang bijaksana.













