Terpilihnya Jordi Cruyff sebagai Direktur Teknik Ajax Amsterdam menjadi sorotan utama, menandai era baru yang berpotensi membawa perubahan signifikan di tubuh klub raksasa Belanda tersebut. Kedatangannya diklaim membuka pintu bagi kembalinya sejumlah nama besar ke klub, termasuk legenda seperti Patrick Kluivert dan Gerald Vanenburg, yang sebelumnya sempat terlibat dengan tim kepelatihan Timnas Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan masa kejayaan klub berjuluk De Godenzonen tersebut.
Cruyff, dengan latar belakang sepak bola yang kuat dan koneksi mendalam dengan filosofi Ajax, diyakini akan melakukan reformasi besar-besaran. Tujuannya jelas: mengembalikan Ajax ke masa keemasannya. Strategi utamanya melibatkan penarikan kembali individu-individu yang memiliki ikatan kuat dan pemahaman mendalam tentang identitas klub, baik sebagai mantan pemain maupun staf.
Media lokal Belanda, De Telegraaf, melaporkan bahwa Jordi Cruyff berambisi untuk membawa pulang nama-nama lawas yang pernah berjasa bagi Ajax. Filosofi di balik langkah ini adalah menjadikan Ajax kembali sebagai klub yang menghargai dan menyambut baik para mantan pemain serta stafnya. Mereka yang pernah memberikan kontribusi besar namun merasa kecewa di masa lalu kini berpeluang untuk kembali dan berkontribusi secara serius.
Laporan De Telegraaf secara spesifik menyebutkan beberapa nama yang berpotensi kembali. Di antaranya adalah Wim Jonk, Dennis Bergkamp, Richard Witschge, Jan Wouters, Gerald Vanenburg, John van ‘t Schip, dan Simon Tahamata. Nama-nama ini disebut-sebut meninggalkan klub dengan kekecewaan dalam beberapa tahun terakhir, dan kini kesempatan untuk kembali terbuka lebar di bawah kepemimpinan Cruyff.
Tidak hanya mereka yang pergi dengan kekecewaan, perhatian media Belanda juga tertuju pada legenda klub lain yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih. Patrick Kluivert, yang dianggap sebagai salah satu ikon Ajax, menjadi nama yang sangat dinantikan kepulangannya. Bersama dengan Kluivert, De Telegraaf juga mengaitkan nama-nama besar lainnya seperti Wesley Sneijder, Marco van Basten, Siem de Jong, Ricardo van Rhijn, dan Daniël de Ridder, yang diharapkan dapat memperkuat struktur klub dengan pengalaman dan keahlian mereka.
Kembalinya nama-nama lawas ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, keputusan klub untuk menyingkirkan mereka dari berbagai posisi justru berujung pada rentetan hasil minor yang mengecewakan. Hilangnya kepercayaan terhadap para legenda ini terbukti tidak membuahkan hasil manis bagi Ajax. Oleh karena itu, kehadiran Jordi Cruyff, sebagai sosok yang sangat dipandang dan dihormati dalam sepak bola Belanda, diharapkan menjadi katalisator untuk perubahan positif.
Dengan visi yang kuat dan pengaruh besar dari sang ayah, Johan Cruyff, Jordi diharapkan mampu mengembalikan filosofi dan identitas Ajax yang telah lama hilang. Bagi publik Tanah Air, perkembangan ini sangat menarik, terutama terkait nasib bekas tim kepelatihan Timnas Indonesia. Gerald Vanenburg, mantan pelatih Timnas U-23 Indonesia, serta Patrick Kluivert, yang memiliki pengalaman singkat namun berharga dengan skuad Garuda, kini berada di persimpangan karier yang menarik.
Transisi karier Patrick Kluivert menjadi sorotan khusus. Setelah melalui periode kepelatihan yang relatif singkat bersama Timnas Indonesia—sebuah fase yang mungkin memunculkan perbandingan dengan pelatih lain atau pertanyaan publik mengenai performa—potensi bergabung dengan Ajax Amsterdam merupakan sebuah peningkatan karier yang luar biasa. Kesempatan untuk kembali ke klub tempat ia meraih kejayaan sebagai pemain dan berkontribusi dalam posisi strategis akan menjadi keberuntungan besar serta langkah maju yang signifikan bagi karier kepelatihannya. Ini juga dapat menjadi babak baru yang menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih, setelah sebelumnya sempat diperbandingkan dengan figur-figur kepelatihan lain atau pengalaman tantangan di level tim nasional.












